PEMIKIRAN ARTHUR SCHOPENHAUER

ARTHUR SCHOPENHAUER dan AJARAN FILSAFATNYA


Arthur Schopenhauer dan Ajaran Filsafatnya 

BIOGRAFI
Arthur Schopenhauer lahir di Danzig (sekarang Gdańsk). Dia adalah putra dari Heinrich Floris Schopenhauer dan Johanna Schopenhauer. Kedua orang tuannya adalah keturunan orang kaya Jerman dan keluarga bangsawan. Keluarga Schopenhauer pindah ke Humburg ketika Kerajaan Prussiadikuasai Polish-Lithuanian Commonwealth kota Danzig tahun 1793. Tahun 1805, ayah Schopenhauer bunuh diri. Setelah itu, ibu Schopenhauer, Johanna pindah ke Weimar, yang kemudian menjadi pusat literatur Jerman. Kepergiannya ke sana untuk melanjutkan karirnya sebagai penulis. Setahun kemudian, Schopenhauer meninggalkan bisnis keluarganya yang ada di Humburg. Dia pergi ke Weimar dan tinggal dengan ibunya. Schopenhauer pun kuliah dan menjadi mahasiswa di Universitas Göttingen pada tahun 1809.Pada masa perkuliahannya, dia belajar tentang metafisika dan psikologi di bawah bimbingan Gottlob Ernst Schulze, penulis buku Aenesidemus, yang mengajurkannya agar berkonsentrasi pada Plato danImmanuel Kant. Pada tahun 1811 sampai tahun 1812, dia mengikuti kuliah dari Johann Gottlieb Fichte, seorang filsuf post-Kant terkemuka dan dari seorang teolog Friedrich Schleiermacher.
     Selama DI Berlin pada tahun 1814, Schopenhauer memulai pekerjaannya sebagai penulis dengan judul bukunya The World as Will and Representation (Die Welt als Wille und Vorstellung), Dunia sebagai Kehendak dan Gagasan. Dia menyelesaikannya pada tahun 1818 dan menerbitkannya setahun kemudian. Pada tahun 1820 Schopenhauer menjadi dosen di Universitas Berlin. Dia menjadwalkan untuk memberikan kuliah yang sama dengan pemikiran filsuf terkenal G. W. F. Hegel. Schopenhauer menyebutnya sebagai clumsy charlata. Namun, hanya lima orang yang berminat mengikuti kuliahnya dan dia pun di keluarkan dari akademi tersebut.Ketika berada di Berlin, Schopenhauer pernah menjadi tersangka atas tuduhan dari seorang wanita bernama Caroline Marquet. Wanita tersebut menuduh Schopenhauer telah mendorongnya. Di dalam pengadilan Schopenhauer bersaksi bahwa wanita itu telah mengganggunya dengan suaranya yang keras di depan pintu Schopenhauer. Caroline Marquet pun menuduh Schopenhauer telah memukulnya setelah wanita itu menolak untuk pergi dari pintunya. Marquet pun menang di dalam pengadilan tersebut. Schopenhauer pun dituntut membayar wanita itu selama dua puluh tahun ke depan. Ketika perempuan itu meninggal dunia, Schopenhauer menulis sertifikat kematiannya denganObit anus, abit onus ("The old woman dies, the burden flies").Hal inilah mungkin yang membuat dia sangat membenci wanita.

     Pada tahun 1812, dia jatuh cinta kepada seorang gadis berusia Sembilan belas tahun. Gadis itu seorang penyanyi opera dan bernama Caroline Richter. Mereka pun sempat berhubungan dengannya selama beberapa tahun. Namun, dia membatalkan rencana pernikahannya. Setelah kematian ayahnya, Schopenhauer meneruskan bisnis ayahnya sebagai pedagang. Usaha itu dijalankannya selama dua tahun. Sedangkan ibunya pergi ke Weimar. Schopenhauer pun belajar di Gota Gym. Setelah itu, dia meninggalkannya karena muak dengan cercaan gurunya Dia pun pergi ke tempat menemui ibunya. Ibunya pda waktu itu telah membuka sebuah salon kecil. Namun, dia tidak cocok dengan pekerjaan ibunya itu dan dia pun muak dengan ibunya yang dianggap melupakan kenangan bersama ayahnya. Schopenhauer pun kemudian berkuliah di sebuah universitas. Di sana dia menulis buku pertamanya, On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason.

     lalu Schopenhauer pindah ke Frankurt ketika masih muda. Pada tahun 1813, wabah kolera menyerang Berlin dan Schopenhauer tinggal di kota itu. Schopenhauer pun menetap di Frankfrut tahun 1833.Pada saat itu, dia telah berusia dua puluh tujuh tahun. dia tinggal sendirian di Frankfrut, kecuali dengan binatang kesangannya Atman dan Butz Karyanya berupa pemikiran yang paling menonjol di sepanjang hidupnya adalah Senilia. Judul ini diterbitkan sebagai penghargaan kepadanya. Schopenhauer mempunyai Sebuah undang-undang yang kuat. Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Buddha dan filsuf Imanuel Kant. Kekagumannya kepada keduanya itu ama besar. Hal ini terlihat dari ruang kerjanya dipasang dengan kedua patung tokoh tersebut. Pada tahun 1833, Dia hidup sebagai bujang kaya berkat warisan orangtuanya. Schopenhauer hidup dengan ketakutan kerena dia merasa terancam. Oleh sebab itu, dia sering tidur dengan pistol di sampingnya. Ia banyak menerbitkan tulisan, namun tidak laku dijual. Dia sendirilah Yang membeli buku karya tulisannya untuk disimpan. Beberapa tahun menjelang akhir hidupnya, barulah ia terkenal. Buku yang disimpannya itupun diedarkannya. Schopenhauer hidup sendiri. rencana pernikahannya selalu berantakan. Dia menganggap hidup dengan banyak orang memuakkan dan membuang waktu baginya. Ia menhina dan mengejek Kaum wanita sebagai “para karikatur”.

Dasar Pemikiran Schopenhauer

Filsafat Schopenhauer hadir sebagai suatu reaksi terhadap filsafat Hegel. Dalam Hegel masih ditemui suatu optimisme rasional; segala ‘Ada’ akhirnya bersifat rasional, bermakna dan dapat dimengerti. Schopenhauer berbeda dalam hal rasionalitas dan kebermaknaan Ada tersebut; dasar ada tidak lagi rasional, melainkan irasional, dan tidak berbentuk kesadaran melainkan ketidaksadaran. Karya utama Schopenhauer, yang membuatnya terkenal, “Die Welt als Wille und Vorstellung” (Dunia sebagai Kehendak dan Presentasi) bermula dengan penilaian tentang hakekat dan batas-batas pemahaman, tetapi tidak dengan pernyataan-pernyataan dogmatis tentang prinsip-prinsip metafisika.
Seperti Kant, Schopenhauer berpendapat bahwa rasio tidak dapat mengetahui ‘benda dalam dirinya sendiri’ (das Ding an sich), namun kita memiliki jalan lain menuju realitas, yang tidak bersifat intelektual, yakni lewat ‘Kehendak’ (will). Bagi Schopenhauer, Kehendak adalah kategori metafisika yang paling nsendental itu. Yang kita tangkap adalah fenomena, yang berupa ‘gejala’ atau dalam bahasa Schopenhauer, ide/presentasi/bayangan (Vorstellung) dari Kehendak transendental itu. Dunia adalah Kehendak dan bayangan (imajinasi); Kehendak adalah realitas noumenal, sedangkan bayang-bayang adalah manifestasinya di alam fenomenal.


· Pengaruh kant

Dengan berpangkal dari Kant, Schopenhauer menemukan bahwa segala sesuatu merupakan manifestasi dari Kehendak. Perbedaan utama antara Kant dan Schopenhauer terletak dalam ajaran tentang benda dalam dirinya sendiri (das Ding an sich). Pada dasarnya Kant menegaskan bahwa apa yang kita ketahui dari segala sesuatu hanyalah presentasi-presentasi saja (fenomenon). Dalam hal ini, Kant membedakan antara dunia sejauh dikenal oleh kita, yaitu bidang-bidang gejala, penampakan/presentasi (fenomenon) atau Ding fur mich dengan dunia di belakang gejala, benda dalam dirinya sendiri (noumenon) atau Ding an sich. Menurutnya dunia ‘benda-benda di dalam dirinya sendiri’ betul-betul ada, tetapi bagi kita hanya hadir sebagai ‘ide’. Schopenhauer menerima distingsi ini, tetapi ia tidak setuju bahwa benda-benada di dalam dirinya sendiri, bidang ‘noumenon’ tidak dapat dikenal. Menurut Schopenhauer hati manusia merupakan pintu masuk ke dunia ‘noumenon’. Dunia yang sungguh-sungguh tidak hanya ditemukan sebagai ‘ide’, melainkan juga dalam hati kita sendiri sebagai Kehendak.


 · Dunia sebagai Presentasi

Dalam disertasi doktoralnya, Schopenhauer berpendapat bahwa dunia fenomenal yang kita alami adalah objek dari subjek. Dengan kata lain, Schopenhauer menyatakan bahwa dunia fenomenal yang sejauh kita alami dan kenal merupakan presentasi-presentai atau gambaran-gambaran mental kita. Hal ini Nampak sebagai usaha kembali kepada Kant, dimana diakui adanya ‘das Ding an sich’.
Dalam karya utamanya, “Die Welt als Wille und Vorstellung” (Dunia sebagai Kehendak dan Presentasi), Schopenhauer semakin memperdalam pandangannya. Pandangan yang dituangkannya dalam buku tersebut diawali dengan kalimat; “The world is my representation…”. Melalui kalimat ini, Schopenhauer ingin menyatakan bahwa seluruh kenyataan yang tampak adalah presentasi-presentasiku tentangnya, atau objek bagi subjek. Dalam hal ini, Schopenhauer ingin menghindari pandangan Hegel yang menyatakan bahwa kenyataan itu ideal, dan sebaliknya menekankan bahwa kenyataan itu fenomenal.

· Dunia sebagai Kehendak

Schopenhauer menolak pendapat Kant yang menyatakan bahwa dunia numenal atau kenyataan pada dirinya yang terlepas dari persepsi kita itu tidak dapat diketahui. Schopenhauer kemudian menyatakan bahwa ‘das Ding an sich’ itu adalah ‘Kehendak’. Dalam usaha mencapai kesimpulan tersebut, Schopenhauer menggunakan intuisi untuk mengenal kenyataan. Manusia menemukan dirinya bahwa Kehendaklah yang menjadi daya pendorong, naik dari yang tak-sadar ke bagian sadar. Oleh karena itu, Kehendak adalah bagian hidup yang terdalam. Bagaian hidup yang terdalam ini dapat menampilkan diri sebagai Kehendak yang lebih tinggi di dalam pikiran, yang menjadi objek di dalam diri manusia, yang menyebabkan adanya gagasan-gagasan tentang dunia. Juga tubuh manusia dapat tampak sebagai gagasan, menjadi objek pandangan akal, menjadi obvjek diantara objek-objek lain. Kehendak tampil sebagai Kehendak yang lebih rendah di dalam gerakan tubuh yang dapat diamati. Di dalam hal ini, Kehendak yang batiniah dan gerakan tubuh yang lahiriah bukanlah dua hal yang berbeda yang dihubungkan secara kausal, melainkan satu dan sama; identik. Dalam pandangan Schopenhauer, gerakan tubuh yang bersifat lahiriah itu tidak lain dari ‘Kehendak yang diobjektifkan’ dalam ruang dan waktu. Dengan kata lain, Schopenhauer menyatakan bahwa gerakan tubuh itu adalah ‘Kehendak sebagai presentasi’.

Kemudian Schopenhauer menjelaskan adanya keanekaan dalam kenyataan sehari-hari, dalam ruang dan waktu, sebagai suatu yang fenomenal saja; maya. Sedangkan ‘das Ding an sich’, menurutnya, haruslah tunggal. Dengan kata lain, di balik keanekaan lahiriah itu ada sebuah kenyataan tunggal yang bersifat numenal. Dan menurut Schopenhauer, kenyataan tunggal itulah yang disebut sebagai Kehendak yang bersifat metafisis. Jadi segala sesuatu yang tampak merupakan penampakan diri dari Kehendak metafisis yang tunggal. Dan Kehendak ini berbicara melalui Kehendak manusia dan Kehendak alam.

Kehendak metafisis pertama-tama berlaku bagi manusia. Menurut Schopenhauer, hakekat manusia tidak terdapat dalam kesadaran atau akal budi. Kesadaran hanyalah sebagian kecil dari hakekat manusia. Kesadaran hanya mewujudkan lapisan atas hakekat manusia. Pikiran-pikiran kita yang telah kita sadari mewujudkan lapisan atas hakekat kita yang dalam. Pertimbangan-pertimbangan kita tumbuh bukan karena penggabungan pikiran-pikiran yang jelas menurut hokum-hukum yang logis, akan tetapi terjadi di bagian dalam yang gelap. Pertimbangan-pertimbangan itu terjadi hampir tanpa kita sadari seperti halnya dengan pencernaan makanan kita. Di dalam bagian terdalam yang bersifat rahasia itu, berkuasalah Kehendak. Kehendak mendorong akal, karena dunia batin kita (termasuk akal budi) dikuasai oleh Kehendak. Karena Kehendak yang tidak disadari itulah manusia didorong untuk hidup. Jadi, menurut Schopenhauer, manusia tidak ditarik oleh kesadarannya, melainkan didorong oleh Kehendak yang tidak sadar. Dengan ini Schopenhauer menegaskan posisinya yang menolak Hegel, yang menyamakan realitas dengan rasio atau roh. Bagi Schopenhauer, yang sungguh-sungguh nyata bukanlah rasio, melainkan Kehendak.

Manusia didorong oleh Kehendak untuk hidup (der Wille zur Leben). Schopenhauer memahaminya sebagai suatu Kehendak buta, yaitu suatu dorongan untuk hidup, suatu Kehendak purba (Urwille). Segala sesuatu merupakan penampakan Kehendak yang satu dan sama. Kehendak ini sama sekali tak dapat berubah dan mendasari segala gagasan kita. Ingatan, badan dan watak, semua itu ditentukan sebagai ‘melodi dasar’ hidup kita. Demikianlah Schopenhauer melihat bahwa pada hakekatnya manusia adalah Kehendak.

Akan tetapi, Kehendak metafisis tidak hanya menjadi daya pendorong di dalam manusia. Schopenhauer juga menyatakan bahwa Kehendak juga menjadi daya pendorong di dalam seluruh dunia, anorganis, yaitu sebagai Kehendak-dunia. Kehendak-dunia juga berkembang dari yang sadar ke yang-tak-sadar, sedang tiap tahap dalam perkembangan ini memiliki pengalamannya sendiri-sendiri. Semula keluarlah dari Kehendak-dunia yang-tak-sadar itu alam yang tidak organis, kemudian alam tumbuh-tumbuhan dan alam binatang. Kemudian dalam tahap alam manusia Kehendak-dunia sampai pada kesadaran diri.

Demikianlah Kehendak yang metafisis menampakkan diri sebagai asas dunia. Oleh karena itu, segala gejala atau penampakan yang mengelilingi manusia dalam ruang dan waktu harus dipandang sebagai penjelmaan Kehendak. Kekuatan yang menggerakkan planet-planet, kekuatan yang mendorong elemen-elemen untuk membentuk hubungan-hubungan kimiawi, kekuatan di bawah keinginan untuk hidup, semuanya itu merrupakan manifestasi dari Kehendak.

Kehendak ini paling nyata dalam keinginan untuk meneruskan diri dalam keturunan. Melalui prokreasi jenis-jenis mahkluk hidup memperlihatkan keinginan untuk mengatasi batas kematian. Schopenhauer dalam hal ini memberikan suatu ‘metafisika cinta seksual’, yang merupakan bagian dari filsafatnya yang terkenal. Menurutnya, yang mendorong dua individu untuk kawin adalah Kehendak hidup dari jenis. Cinta kasih itu hanya suatu alat dari alam untuk mempertahankan jenis-jenis. Individu-individu bertindak atas dasar Kehendak alam.

Schopenhauer kemudian menegaskan bahwa dorongan pembiakan, yang menjadi penjelmaan paling kuat dari Kehendak itu, bahakan mengalahkan maut (kematian perorangan). Maka, menurutnya, pusat Kehendak berada di dalam genitalia, yaitu tempat dorongan (nafsu) seksual. Jadi, dua orang yang berbeda jenisnya begitu tertarik satu sama lain, tifak lain karena Kehendak untuk hidup yang ada di dalam jenisnya. Di dalam cinta seksual itu, orang perorangan menjadi alat bagi jenisnya.

Schopenhauer juga menyatakan bahwa di bawah sejarah pada umumnya terdapat suatu Kehendak. Di bawah semua perbedaan antara bangsa-bangsa, zaman-zaman, adat istiadat hanya terdapat satu bangsa manusia. Tidak ada kemajuan yang sungguh-sungguh. Sejarah itu peredaran. Oleh karena itu, dalam semua zaman diumumkan hikmat yang sama oleh orang-orang saleh dan dilaksanakan kebodohan yang sama yang berlawanan dengan hikmat itu.


· Pesimisme Metafisis

Bertolak dari pandangannya mengenai Kehendak, Schopenhauer dengan tegas menolak optimisme Fichte, Schelling dan Hegel yang begitu yakin akan sukses rasio dalam sejarah. Menurutnya, jika dunia dipandang sebagai Kehendak, maka hidup adalah penderitaan. Hal ini disebabkan oleh Kehendak itu adalah sebuah dorongan buta yang tidak akan pernah mencapai kepuasan dan tujuannya. Schopenhauer menyebutnya sebagai ‘Kehendak yang kejam’, karena dalam setiap kesempatan selalu menimbulkan penderitaan bagi hidup manusia. Kehendak itu selalu berjuang, tapi tidak pernah mencapai apa-apa. Oleh sebab itu, hidup itu sia-sia dan hanya penuh rasa frustasi. Dan hal itu nampak dalam usaha terus-menerus manusia untuk mencapai kebahagiaan. Pada kenyataan adalah penderitaan. Kebahagiaan hanya bersifat negatif. Kebahagiaan adalah tidak hadirnya penderitaan. Oleh karena itu, Schopenhauer menyebut Kehendak metafisis sebagai ‘Kehendak yang menganiaya’.


· Jalan Pelepasan

Demikianlah manusia dibelenggu oleh Kehendaknya. Agar manusia dapat bahagia, ia harus membebaskan diri dari belenggu Kehendaknya dan dari perbudakan Kehendak perorangan. Hal ini mugkin, menurut Schopenhauer, karena manusia dapat menjadi pelaku atau subjek pengetahuan yang murni, tanpa dibelenggu Kehendaknya. Menurut Schopenhauer, pengetahuan yang demikian dapat dicapai melalui musik. Musik merupakan proyeksi Kehendak sendiri, jadi dari hakekat dunia. Melalui musik Kehendak ini berbicara, sehingga kita untuk sementara diangkat dari dunia maya. Namun, musik tidak hanya sementara, dan tidak juga membebaskan kita dari dunia.
Dan menurut Schopenhauer, jalan yang lebih baik menuju pembebasan itu adalah jalan etika, berupa askese seperti yang ada dalam Budhisme dan Hinduisme (Vedanta). Keduanya mengajarkan bahwa keinginan untuk hidup harus dimatikan, supaya manusia betul-betul lepas dari Kehendaknya sendiri. Bunuh diri bukanlah jalan keluar, karena bunuh diri hanya akan menghancurkan tubuh fenomenal, tetapi tidak menghancurkan Kehendak itu sendiri. Satu-satunya jalan adalah dengan membelokkan Kehendak, sehingga ia melawan dirinya sendiri; dan dengan serangkaian usaha penolakan atau penyangkalan untuk menghapus Kehendak-Kehendak tersebut. Kalau Kehendak sendiri, ‘aku’, dihapuskan, lalu manusia bisa hancur dalam keseluruhan, masuk dalam kebahagiaan, lepas dari peredaran, masuk ke dalam ‘moksa’ atau ‘nirwana’.

Ajaran Filsafat Arthur Schopenhauer
 
Arthur Schopenhauer merupakan salah satu filsuf yang memberikan ide tentang filsafat seni/estetika yang berpengaruh pada abad ke-18. Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer dipengaruhi dengan kuat oleh Imanuel Kant dan juga pandangan Buddha. Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Immanuel Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda pada dirinya sendiri itu bisa diketahui, yakni "kehendak". Filsafat Schopenhauer hadir sebagai suatu reaksi terhadap filsafat Hegel. Dalam Hegel masih ditemui suatu optimisme rasional; segala ‘Ada’ akhirnya bersifat rasional, bermakna dan dapat dimengerti. Schopenhauer berbeda dalam hal rasionalitas dan kebermaknaan Ada tersebut; dasar ada tidak lagi rasional, melainkan irasional, dan tidak berbentuk kesadaran melainkan ketidaksadaran. Karya utama Schopenhauer, yang membuatnya terkenal, “Die Welt als Wille und Vorstellung” (Dunia sebagai Kehendak dan Presentasi) bermula dengan penilaian tentang hakekat dan batas-batas pemahaman, tetapi tidak dengan pernyataan-pernyataan dogmatis tentang prinsip-prinsip metafisika.
Ia mempengaruhi beberapa filsuf dengan pemikirannya. Bahkan, Hittler mengaguminya. Menurut Schopenhauer, dunia ini adalah representasi ide atau pemikiran kita. Realitas adalah kehendak itu sendiri. Akan tetapi, kehendak itulah sumber penderitaan manusia. Untuk melepaskan diri dari penderitaan, menurut Schopenhauer, kita harus menghilangkan kehendak egoistik, menyerah kepada kosmik, dan menolong sebanyak mungkin orang. Schopenhauer mempunyai sebuah undang-undang yang kuat. Pemikiran Schopenhauer banyak dipengaruhi oleh pandangan Buddha dan paham filsuf Imanuel Kant. Kekagumannya kepada keduanya itu amat besar. Hal ini terlihat dari ruang kerjanya dipasang dengan kedua patung tokoh tersebut. Pemikiran Arthur Schopenhauer berikut ini, antara lain:
1)     Dunia Sebagai Ide/Gambaran

Schopenhauer melihat dirinya sebagai bocah yang merevolusi Kant’s Copernican, sendirian membawa proyek masternya ke kesimpulan logika. Kant mempunyai argumen bahwa ada sebuah epistemic distingsi di antara dunia yang telah kita alami, dunia yang kelihatannya, dan dunia yang sebenarnya. Kita semua ide atau representasi. “Dunia adalah representasi saya,” tulis Schopenhauer. Schopenhauer membuka buku The World as Will and Representation-nya dengan kalimat, “The World is my idea”. Menurut Schopenhauer, benda yang dapat kita kenal adalah gambaran representasinya.
 
2)     Kehendak Hidup

Menurut Schopenhauer, ada dua aspek: di luar, yakni representasi, dan di dalam, yakni kehendak. Dunia adalah gambaran/kehendak. Kehendak adalah esensi dari kehidupan ini, kita hanya dapat mengenal dunia sesuai penampilannya kepada kita. Untuk dapat mengenal dunia, kita tidak mempunyai jalan masuk ke sana. Hanya ada satu pintu dan pintu itu adalah kehendak. Menurut Schopenhauer, kehendak itu bisa dimanifestasikan sebagai tubuh kita. Jadi, kita melihat representasi dunia dengan tubuh kita. Sebelum kita melangkah kepada pembahasan yang lebih jauh, terlebih dahulu kita melihat apa yang melatar belakangi pemikiran tersebut.
Di belakang pemikiran Schopenhauer, dapat kita temukan pemikiran Plato dan Immanuel Kant. Pengaruh Plato tampak pada pandangannya (thing in it- self) , dan Schopenhauer memahaminya sebagai sumber ide. Sedangkan, pengaruh Immanuel Kant dapat dilihat dalam pandangannya dalam dua dunia, yakni dunia noumenal dan fenomenal.  Dari pandangan mengenai pemahaman dunia itu, ada baiknya membahas dunia sebagai ide dan dunia sebagai kehendak.
a   The world is my idea  merupakan kata pembuka dari karya besar Schopenhauer. The world as will and the world is idea. Maksud dari kalimat tersebut dapat dimengerti sangat “berbau”  kantian. Dalam kalimat tersebut, Schopenhauer menegaskan bahwa dunia eksternal yaitu dunia fenomenal, Hanya dapat diketahui melalui sensasi-sensasi atau ide-ide yang dapat kita terima. Disini dapat kita lihat bahwa peran subjek sangat dominan dalam pandangan Schopenhauer mengenai pengetahuan. Hal tersebut tentu dapat dipahami sebagai sebuah penolakan terhadap matrealisme. Dalam matrealisme kenyataan direduksi menjadi materi saja. Dengan menyatakan demikian, Schopenhauer menyangkal matrealisme. Bagaimana orang dapat menjelaskan bahwa pikiran merupakan hasil dari materi, jika kita mengetahui materi dari pikiran. Jika kita mengetahui materi dari pikiran?, Materi tidak pernah berdiri sendiri. Subjek memiliki otoritas atas materi. Tidak akan ada objek tanpa subjek, segala pengetahuan yang terdapat didunia ini merupakan konstruksi subjek. Melalui mata subjek melihat, melalui tangan ia meraba, dan melalui pengertiannya ia mengetahui. Dunia ide tak lebih hanyalah sensasi-sensasi belaka. Mereka tidak akan pernah berdiri sendiri tanpa adanya subjek yang mempersepsi. Dalam hal ini. bagi Schopenhauer dalam menyelidiki sesuatu yang benarnya, yang ditemukan hanyalah: kesan-kesan dan nama-nama. Jadi, dalam dunia fenomenal kenyataan merupakan objek dalam relasinya dengan subjek. Sebuah persepsi dari subjek yang mempersepsi, dengan kata lain dapat menyebutnya dengan Semu.
 
3)     Keselamatan dari Penderitaan Eksistensi

Bagi Schopenhauer, realitas adalah kehendak itu sendiri spiritual, bukan material - tetapi kehendak adalah penderitaan. Manusia terus-menerus berkehendak, terus berpindah dari kehendak satu ke kehendak yang lain. Menurut Schopenhauer, jalan keselamatan adalah Hindu. Penolakan terhadap nafsu, menghilangkan kehendak, membebaskan manusia dari ilusi dan penderitaan. Solusi dari permasalahan penderitaan ini adalah menghilangkan egoistis kehendak dan menyerah kepada kosmik. Estetika yang dikemukakan oleh Schopenhauer merupakan jalan keluar dari penderitaan, walaupun sifatnya hanya sementara. Penderitaan dalam hidup bisa disembuhkan oleh seni. Manusia yang hidup dalam keadaan patologis, dapat diangkat oleh keindahan seni. Schopenhauer menyebut seni-seni yang dapat mengatasi problem ini, seperti arsitektur, seni lukis, seni pahat atau patung, puisi dan musik. Dan, ia sangat meninggikan seni musik dalam filsafat Kehendaknya. Musik menjadi puncak dari segala bentuk seni yang lain.
 
4)     Moralitas

Menurut Schopenhauer, pada dasarnya manusia itu egois. Egoisme itulah yang melahirkan penderitaan. Untuk menghilangkan penderitaan itulah manusia harus melepaskan egoismenya, melepaskan diri dari kehendak, dan jalan moralitas adalah salah satu jalan pelepasan kehendak. Manusia harus melepaskan egoismenya dan menolong orang sebanyak yang dia mampu. Tampaknya Schopenhauer sangat terpengaruh oleh agama Hindu.
 
5)     Schopenhauer, Seks, dan Psikoanalisis

Bagi Schopenhauer, seks adalah “penegasan terhadap kehendak yang paling kuat. Itu kehendak hidupnya yang final dan tujuannya yang paling tinggi”. Oleh karena itu Schopenhauer memandang kelamin sebagai “fokus yang riil dalam kehendak”.
 
Dalam buku  karya Kumara Ari Yuana: 100 tokoh filsuf Barat abad 6 sampai abad ke-21, Schopenhauer dianggap berjasa karena  mempopulerkan pikiran Immanuel Kant dengan kombinasi unsur Filsafat Timur. Sifat uniknya adalah ia selalu melihat orang lain dengan curiga dan sinis serta kesan umum atas hidup adalah Pesimistik yang tak tergantikan. Hal tersebut tidak menjadikan Ia kehilangan rasa nikmat di dalam banyak hal, antara lain: musik, makanan, anggur, perjalanan, dan tamasya. Ketika merasa bosan, ia akan terlihat gembira dan hidup. Gaya tulisannya mempengaruhi pemikiran Friedrich Nietzsche dan Max Schler serta aliran “filsafat hidup”.
 
6)     Keputusan dan Hukuman

Schopenhauer menjelaskan seseorang yang hendak mengambil keputusan. Menurut dia, ketika kita mengambil keputusan, kita akan diperhadapkan dengan berbagai macam akibat. Oleh sebab itu, keputusan yang diambil memiliki alasan atau dasar. Keputusan-keputusan ini menjadi tidak bebas lagi bagi si pemilihnya. Pemilih itu harus diperhadapkan kepada beberapa akibat dalam sebuah keputusan. Segala tindakan yang dilakukan seseorang merupakan kebutuhan dan tanggung jawabnya.
Pemikiran khas Schopenhauer dalam estetika: Musik sebagai seni tertinggi
Musik sebagai Seni Tertinggi Menurut Schopenhauer, musik itu berdiri sendiri, berbeda dari seni-seni yang lainnya. Seni-seni yang lain mengulangi atau menyalin ide tentang eksistensi. Schopenhauer menyatakan bahwa seni-seni yang lain merupakan ungkapan dari Kehendak, sedangkan musik adalah Kehendak itu sendiri. Musik memiliki pengaruh yang sangat kuat pada inti kodrat manusia. Oleh karena itu, musik dimengerti dalam kesadaran sebagai ‘bahasa universal’.

Daftar Pustaka :mendasar, akar dari segala yang kita anggap ‘nyata’ (fenomenal). Menurutnya, hanya dalam tindakan-tindakan Kehendak itulah kita dapat merealisasikan diri sendiri sebagai mahkluk yang punya eksistensi.
Jadi, Kehendak adalah realitas transendental, artinya realitas noumenal, realitas di belakang fenomena atau pengalaman yang kita rasakan. Realitas pada hakikatnya berupa Kehendak. Di belakang dunia pengalaman kita terdapat Kehendak tra


http://kampusbebeck.blogspot.com/2011/01/arthur-schopenhauer-musik-sebagai-seni.html
https://grelovejogja.wordpress.com/2009/12/31/profil-arthur-schopenhauer-1788-%E2%80%93-1860/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAKIKAT MANUSIA MENURUT 5 KATEGORI

HAKIKAT MANUSIA MENURUT PLATO