HAKIKAT MANUSIA MENURUT 5 KATEGORI

Hakikat Manusia Menurut Islam

Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah SWt yang memiliki peranan penting dalam kehidupan di muka bumi. Manusia juga dipandang sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya dibandingkan makhluk Allah SWT bahkan Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam Alaihi salam. Masyarakat barat memiliki pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa dan raga serta dibekali dengan akal dan pikiran. Lalu bagaimanakah hakikat manusia dalam pandangan islam?

Asal Kejadian Manusia
Asal usul manusia dalam Islam dapat dijelaskan dalam proses penciptaan manusia pertama yakni nabi Adam As. Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dan diberikan ilmu pengetahuan dan kesempurnaan dengan segala karakternya. Allah mengangkat Adam dan manusia sebagai khalifah dimuka bumi sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut ini
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan engkau?” Tuhan berfirman:”sesungguhnya aku mengetahui apa yan tidak kamu ketahui”.(QS.Al-Baqarah : 30)
Proses penciptaan manusia dijelaskan dalam al-Qur’an dan bahkan penjelasan dalam Alqur’an ini kemudian terbukti dalam ilmu pengetahuan yang ditemukan setelah turunnya Alqur’an. Ada lima tahap dalam penciptaan manusia yakni al-nutfah, al-‘alaqah, al-mudhgah, al-‘idham, dan al-lahm sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini
”Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, dan segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami jadikan segumpal daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, pencipta yang paling baik”. (QS. Al-Mu’minun ayat 12-14)
Tujuan Penciptaan Manusia
Adapun tujuan utama allah SWT menciptakan manusia adalah agar manusia dapat menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi. Tugas utama manusia adalah beribadah dan menyembah Allah SWt, menjalani perintahnya serta menjauhi larangannya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku.” (QS Adz Zariyat :56).
Sebagai khalifah dimuka bumi manusia hendaknya juga dapat menjaga amanatnya dalam menjaga alam dan isinya. Manusia sememstinya memiliki akhlak dan perilaku yang baik kepada sesama maupun makhluk hidup yang lain.
Hakikat Manusia Menurut Pandangan Islam
Dalam agama islam, ada enam peranan yang merupakan hakikat diciptakannnya manusia. Berikut ini adalah dimensi hakikat manusia berdasarkan pandangan agama islam
1. Sebagai Hamba Allah
Hakikat manusia yang utama adalah sebagai hamba atau abdi Allah SWT. Sebagai seorang hamba maka manusia wajib mengabdi kepada Allah SWT dengan cara menjalani segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sebagai seorang hamba, seorang manusia juga wajib menjalankan ibadah seperti shalat wajibpuasa ramadhan (baca puasa ramadhan dan fadhilahnya), zakat (baca syarat penerima zakat dan penerima zakat)haji (syarat wajib haji) dan melakukan ibadah lainnya dengan penuh keikhlasan dan segenap hati sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus …,” (QS:98:5).
2. Sebagai al- Nas
Dalam al- Qur’an manusia juga disebut dengan al- nas. Kata al nas dalam Alquran cenderung mengacu pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan manusia lain atau dalam masyarakat. Manusia sebagaimana disebutkan dalam ilmu pengetahuan, adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya (baca keutamaan menyambung tali silaturahmi). Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut
“Hai sekalian manusia, bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istirinya, dan dari pada keduanya Alah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS: An Nisa:1).
Sponsors Link

“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS: Al Hujurat :13).
3. Sebagai khalifah Allah
Telah disebutkan dalam tujuan penciptaan manusia bahwa pada hakikatnya, manusia diciptakan oleh Allah SWt sebagai khlaifah atau pemimpin di muka bumi.(baca fungsi alqur’an bagi umat manusia)
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (peguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. …”(QS Shad:26).
Sebagai seorang khalifah maka masing-masing manusia akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di hari akhir.
4. Sebagai Bani Adam
Manusia disebut sebagai bani Adam atau keturunan Adam agar tidak terjadi kesalahpahaman bahwa manusia merupakan hasil evolusi kera sebagaimana yang disebutkan oleh Charles Darwin. Islam memandang manusia sebagai bani Adam untuk menghormati nilai-nilai pengetahuan dan hubungannya dalam masyarakat. Dalam Alqur’an Allah SWT berfirman
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, semoga mereka selalu ingat. Hai anak Adam janganlah kamu ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, …” (QS : Al araf 26-27).
5. Sebagai al- Insan
Tidak hanya disebut sebagai al nas, dalam Alqur’an manusia juga disebut sebagai Al insan merujuk pada kemampuannya dalam menguasai ilmu dan pengetahuan serta kemampuannya untuk berbicara dan melakukan hal lainnya (baca hukum menuntut ilmu). Sebagaimana disebutkan dalam surat Al hud berikut ini
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, kemudian rahmat itu kami cabut dari padanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (QS: Al Hud:9).
Sponsors Link

6. Sebagai Makhluk Biologis (al- Basyar)
Manusia juga disebut sebagai makhluk biologis atau al basyar karena manusia memiliki raga atau fisik yang dapat melakukan aktifitas fisik, tumbuh, memerlukan makanan, berkembang biak dan lain sebagainya sebagaimana ciri-ciri makhluk hidup pada umumnya. Sama seperti makhluk lainnya di bumi seperti hewan dan tumbuhan, hakikat manusia sebagai makhluk biologis dapat berakhir dan mengalami kematian, bedanya manusia memiliki akal dan pikiran serta perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.
Segala hakikat manusia adalah fitrah yang diberikan Allah SWT agar manusia dapat menjalankan peran dan fungsinya dalam kehidupan. Manusia sendiri harus dapat memenuhi tugas dan perannya sehingga tidak menghilangkan hakikat utama penciptaannya. (baca juga fungsi agama dalam kehidupan manusia dan hidayah Allah kepada manusia)

HAKIKAT MANUSIA SECARA UMUM
HAKIKAT MANUSIA

            Secara umum, manusia merupakan salah satu jenis makhluk yang sudah ribuan abad lamanya yang menghuni di muka bumi . Banyak argumen tentang apa yang dimaksud manusia , sehingga pengertian manusia diartikan banyak oleh masyarakat umum. Berikut pengertian manusia dengan berbagai pendapat :
Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat yg mulia.
Manusia adalah kemauan bebas. Inilah kekuatannya yg luar biasa dan tidak dapat dijelaskan : kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yg bebas – kepadanya dunia alam –world of nature–, sejarah dan masyarakat sepenuhnya bergantung, serta terus menerus melakukan campur tangan pada dan bertindak atas rangkaian deterministis ini. Dua determinasi eksistensial, kebebasan dan pilihan, telah memberinya suatu kualitas seperti Tuhan
Manusia adalah makhluk yang sadar. Ini adalah kualitasnya yg paling menonjol; Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yg menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yg tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa. Ia tidak tetap tinggal pada permukaan serba-indera dan akibat saja, tetapi mengamati apa yg ada di luar penginderaan dan menyimpulkan penyebab dari akibat. Dengan demikian ia melewati batas penginderaannya dan memperpanjang ikatan waktunya sampai ke masa lampau dan masa mendatang, ke dalam waktu yg tidak dihadirinya secara objektif. Ia mendapat pegangan yg benar, luas dan dalam atas lingkungannya sendiri. Kesadaran adalah suatu zat yg lebih mulia daripada eksistensi.
Manusia adalah makhluk yg sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yg mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu –quasi-miracolous– yg memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yg tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.
Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yg ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yg ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.
Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.
Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yg tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.
Maka , secara umum manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai akal pikiran dan hati nurani, sehingga dapat membedakan yang mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia juga makhluk hidup  yang paling sempurna di muka bumi ini baik dari sistem tubuhnya maupun dari koordinasi dalam hidup kesehariannya
2.2       Hakikat, Peranan dan Fungsi Manusia menurut Islam
Sebagai mahluk yang tidak memiliki qudrah untuk menguasai ruang dan waktu dalam hidup, kita sebagai manusia ciptaan Allah tentu dan harus mempunyai suatu ukuran atau standart hidup. Karena kita tidak bisa memastikan apakah kita mampu menjalankan amanah Allah sebagai makhluk yang paling mulia atau malah tergilas dengan roda zaman.
Menurut Prof. DR. H. Hadari Nawawi dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Dalam Islam, hakikat manusia dalam pandangan Islam terbagi menjadi dua poin, yatu
·         Manusia sebagai ciptaan Allah
Hakikat pertama ini berlaku pada umumnya manusia di seluruh jagad raya sebagai ciptaan Allah diluar alam yang disebut akhirat. Alam ciptaan merupakan alam nyata yang konkrit sedangkan alam akhirat merupakan ciptaan yang ghaib kecuali Allah yang bersifat ghaib bukan ciptaan yang ada karena dirinya sendiri. Dalam firmanya , Allah berfirman dalam surat Shad ayat 71 dan 72 sebagi berikut:
 ٧١إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِن طِينٍ

71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah".
                                                                ٧٢  فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ       
72. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".

·         Kemandirian dan Kebersamaan (Individualitas dan Sosialitas)
Kemanungalan tubuh dan jiwa yang diciptakan Allah SWT , merupakan satu diri individu yang berbeda dengan yang lain . setiap manusia dari individu memiliki jati diri masing – masing. Jati diri tersebut merupakan aspek dari fisik dan psikis di dalam kesatuan. Setiap individu mengalami perkembangan dan berusah untuk mengenali  jati dirinya sehingga mereka menyadari bahwa jati diri mereka berbeda dengan yang lain.  Surat al a’raf 189
·         Manusia Merupakan Makhluk yang Terbatas
Manusia yang memiliki kebebasan  dalam mewujudkan dirinya baik sebagai individu maupun kelompok ternyata dtidak dapat melepaskan diri dari berbagai ketertarikan yang membatasinya. Hal itu merupakan hakikat manusia yang dibawa sejak manusia diciptakan oleh Allah SWT.
Manusia makhluk yang terbaik rohaniyah dan jasmaniyah, tetapi mereka akan dijadikan orang yang amat rendah jika tidak beriman dan beramal shaleh, lantas apa peran yang harus dimainkan oleh manusia untuk mengangkat harkat, derajat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Allah dan khalifah di muka bumi.
Beberapa pemikir dan filosof barat ada yang mempunyai pandangan yang negatif terhadap manusia, dan menilai rendah martabatnya. Ada yang menyamakannya secara general dengan binatang, seperti serangga yang hina dan ulat yang kotor (russel) dan lain sebagainya. Tetapi Al-qur’an berbeda dengan mereka, ia menempatkan manusia pada posisi yang mulia, lebih mulia dari kebanyakan makhluk ciptan Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an:
 “dan sesungguhnya telah kami mulyakan anak-anak Adam, kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”.
Manusia mulia martabatnya karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, antara lain :
1.      Sruktur tubuhnya paling top dan ideal. Dalam istlah Al-Qur’an “fii ahsani taqwiim “ dalam bentuk yang sebaik-baiknya, firman Allah :
Allah memperindah rupa manusia “ ahsanah suwarokum” dan dengan struktur yang sempurna dan seimbang, firman Allah :
“yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh )mu seimbang.
2.      Manusia dikaruniakan akal fikiran, hati sanubari dan jiwa (ruh) yang biasa mengangkat martabatnya di atas binatang dan beberpa makhluk lainnya.
3.      Manusia diberi hak menikmati dan mengekspoitasi makhluk Allah sesuai dengan ketentuan dari ajaran-Nya seperti rotasi siang dan malam (QS. Yunus 10 : 67) Bumi yang lapang, tenang dan gampang dijinakkan (QS. Az-Zukhruf 46 :10) (QS. Ghafir 40 : 64) air untuk diminum dan irigasi (QS. AL-Waqi’ah) 56 :68-69) (QS. As-Shaad 32 : 2) sungai dan laut untuk transportasi  dan agar digali serta dimanfaatkan isi kandungannya (QS. Al-Jatsiyah 45: 12 ) dsb.
4.      Allah SWT. mengangkat manusia sebagai khalifah di atas muka bumi yang bertugas untuk mengejawantahkan dan mengimplementasikan syari’at Allah secara adil ditengah-tengah makhluk-Nya (QS. Al-Baqarah 2 : 30) (QS. Shad 38: 20), sebagai pengemban amanah Allah (QS. Al-Ahzab 33: 72) dan penguasa dunia apabila mereka beriman dan beramal shaleh (QS. An-Nuur 24 : 55)
5.      Manusia mendapat suatu kehormatan yang besar dari Allah SWT berupa terpilihnya sebagian dari merka sebagai Rasul dan Ambiyaa’-Nya, yang membawa missi kerasulan dan kenabian untuk ummat manusia yang lain, bahkan Nabi Besar Muhammad SAW, beliau membawa Rahmat untuk semesta alam.
Dari hal tersebbut di atas betapa pentingnya persiapan SDM sehingga mampu melaksanakan missi yang diembankan dan diamanahkan kepadanya, terbukti dengan bagaimana Allah SWT menyiapkan Nabi Adam di Surga dengan bekal ilmu, keterampilan berkomunikasi dan pendidikan etika menghadapi cobaan syetan dan hawa nafsu serta kesiapan untuk kewaspadaan tinggi menghadapi godaan berikutnya dari Iblis. Juga proses penyiapan SDM kerasulan ini tampak nyata dikalangan Ulum Azmi dan Nabi Muhammad SAW, terutama dalam menghadapi beraneka ragam ujian, godaan dan tantangan yang datang silih berganti. Dalam rangka implementasi kehendak Allah SWT, agar menjadikan kalimatullah hiyal ulya dan kalimatul kafirin hiyas sufla searta terlaksananya Syari’at-Nya secara utuh dan kaffah  : Allah SWT memerintahkan kita agar menggalang potensi ummat secara optimal agar musuh-musuh Islam merasa getir dan kalah mental.












Memahami makhluk Tuhan yang bernama manusia sungguh sangat sukar. Berbagai macam pandangan para tokoh mengenai manusia. Ahli mantic (logika) menyatakan bahwa manusia adalah “Hayawan Natiq” (manusia adalah hewan berpikir), seorang ahli filsafat yaitu Ibnu Khaldun menyatakan bahwa manusia itu madaniyyun bi al-thaba atau manusia adalah makhluk yang bergantung kepada tabiatnya. Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa manusia adalah “zoon political” atau “political animal (manusia adalah hewan yang berpolitik).
Mengenai sifat makhluk yang bernama manusia itu sendiri yakni bahwa makhluk itu memiliki potensi lupa atau memiliki kemampuan bergerak yang melahirkan dinamisme, atau makhluk yang selalu atau sewajarnya melahirkan rasa senang, humanisme dan kebahagiaan pada pihak-pihak lain. Dan juga manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk yang berfikir, berbicara, berjalan, menangis, merasa, bersikap dan bertindak serta bergerak[1]
A.  Mengenai manusia ada beberapa filosof yang berbeda pendapat
Plato
Menurut Plato, martabat manusia sebagai pribadi tidak terbatas pada mulainya jiwa bersatu dengan raga, jiwa tidak berada lebih dulu sebelum manusia atau pribadi adalah jiwa sendiri. Sedangkan badan oleh Plato yang disebut sebagai alat yang berguna sewaktu masih hidup didunia ini, tetapi badan itu disamping berguna sekaligus juga memberati usaha jiwa untuk mencapai kesempurnaan, yaitu kembali kepada dunia “ide”.
Sedangkan jiwa berada sebelum bersatu dengan badan. Persatuan jiwa dengan badan merupakan hukuman, karena kegagalan jiwa untuk memusatkan perhatianya kepada dunia “ide”, jadi manusia mempunyai Pra-eksistensi yaitu sudah ada sebelum dipersatukan dengan badan dan jatuh kedunia ini.
Thomas Aquinas
Ia berpendapat bahwa yang disebut manusia sebagai pribadi adalah makhluk individual, kalau hidup, ialah makhluk yang merupakan kesatuan antara jiwa dan badan. Sedangkan yang dimaksud pribadi adalah masing-masing manusia individual : manusia yang konkret dan yang riil dan juga mempunyai kodrat yang rasional. Manusia adalah suatu substansi yag komplit terdiri dari badan (material) dan jiwa (forma).
David Hcme
Berbicara mengenai pribadi dalah idntitas diri yaitu kesamaan jati diri manusia dalam kaitannya dengan waktu. Beliau berpegang teguh bahwa pengetahuan ilmiah hanya dapat dicapaidengan titik tolak pengalaman indrawi yaitu penglihatan, penciuman, perabaan, pencicipan dan pendengaran.
Immanuel Kant
Memahami pribadi yaitu sesuatu yang sadar akan identitas numeric mengenai dirinya sendiri pada waktu yang berbeda-beda beliau percaya bahwa identitas diripun tidak dapat dipergunakan untuk menyanggah keyakinan bahwa segala sesuatu didunia ini selalu mengalir berganti.
John Dewey
“pribadi” berarti seseorang bertindak sebagai wakil dari suatu group atau masyarakat. Seorang individu hanya bisa disebut pribadi kalau ia mengemban dan menampilkan nilai-nilai social masyarakat tertentu.[2]
Jiwa Manusia
Jiwa manusia sering dimengerti sebagai suatu benda halus atau suatu makhluk halus yang merasuki, meresapi serta menggunakan badan untuk mewujudkan cita-cita jiwawi. Terkadang pula jiwa manusia digambarkan atau dibayangkan persis seperti tubuhnya hanya saja tidak bissa diraba atau ditangkap sifat dari jiwa juga tergantung pada tarafnya..
Taraf tertinggi yaitu rasional, didalam manusia mengandaikan dukungan dari taraf-taraf yang lebih rendah, yaitu taraf anarganik (benda mati) taraf vegetatif (tumbuhan) dan taraf sensitive (binatang).
Dalam taraf rasional atau manusia pembaharuan merupakan peristiwa yang terus menerus terjadi. Pembaharuan menjadi begitu efektif didalam sejarah kehidupan manusia, karena didalam diri manusia terdapat kesadaran intelektual yang mempunyai kemampuan sangat efektif untuk menyederhanakan pengalaman dan memberi tekanan kepada segi yang dianggap pentingsambil menyingkirkan yang dianggap tidak relevan.
Kemampuan itu disebut kemampuan abstraksi, kemampuan abstraksi disisni berfungsi rasiio atau budi ssebagai yang menjalankan pemerintah atas keseluruhan ataupun bagian-bagian didalam manusia.
Didalam manusia terdapat 2 sumber bagi munculnya kebaruan yang satu merupakan hasil dari koordinasi yang ketat dari tubuh manusia sebagaimana juga terdapat pada binatanng, dan yang lain dari identitas yang hebat dari fungsi intelektual.
Perlu disadari bahwa budi tidak identik dengan jiwa, budi meskipun menduduki posisi tertinggi dan memegang dominasi atas bagian-bagian lain, hanyalah bagian dari jiwa, jiwa manusia adalah keseluruhan kompleks kegiatan mental dari taraf yang paling rendah sampai yang palling tinggi emosi, kenikmatan, harapan, ketakutan, penyesalan, penilaian dari macam-macam pengalaman mental innilah yang merupakan unsure-unsur pembentukan “jiwa manusia”, dan jiwa manusia itu ditandai dengan mental.
Taraf pengalaman mental manusia terdiri dari penngalaman-pengalamn mental yang begitu kompleks, kegiatan mental yang kompleks ini merupakan kesatuan dari emosi, rasa senang (enjoyment), harapan, kehawatiran dan ketakutan penyesalan penilaian terhadap macam-macam alternatif serta macam-macam keputusan, pengalaman mental mempunyai dasarnya didalam pengalamn fisik.
Badan juga berfungsi sebagai bidang ekspresi manusia. Jiwa manusia adalah kesatuan kompleks dari kegiatan mental, dari yang paling rendah ke yang bersifat intelektual.[3]
Mengenai kedudukan manusia yang palinng menarik adalah sendiri dalam lngkungan yang diselidiki pula. Ternyata penyelidikan mengenai lingkungan ini lebih (dianggap) memuaskan dari pada penylidikan tentang manusia itu sendiri.[4]
Bicara masalah hidup manusia itu memang unik, hidup adalah aktivitas, dan segala aktivitas membawa besertanya masalah-masalh tertentu. Masalah-masalah termaksud harus dipecahkan dengan berhasil untuk menjadikan manusia itu sesuatu yang sukses. Masalah-masalah tesebut dibagi 2 kategori, yaitu masalah immediate problem dan masalah asasi(utimmate problems)
Immediate problems ialah masalah-maslah praktis sehari-hari , masalah yang kemballi kepada keperluan-keperluan pribadi yang mendesak dan masalah seperti :administrasi negara, produksi, konsumsi dan distribusi. Kemudian masalah asai manusia , maka setiap manusia yang memperhatikan hidup dengan serius akan mendapatkan drinya berhadapan muka dengan masalah-masalah asasi tersebut. Setelah dia merasakan desakan beban dan liku-liku hidup.[5]
Manusia Mempunyai Pengetahuan
Pengetahuan merupakan bagi makhluk yang mempunnyainya apakah dia manusia, malaikat atau banatang suatu kekayaan dan kesempurnaan. Dengan adanya pengetahuan yang dimilikinya manusia bisa memahami dirinya sendiri dan keberadaanya. Pengetahuan lebiih merupakan suatu cara berada dari pada suatau cara mempunyai. Aktifitas itu tidak berupa penyitaan  atau pemilikan benda-benda sebaliknya berupa keterbukaan terhadap mereka.
Jadi pengetahuan adalah suatu kegiatan mempengaruhi subjek yang mengetahui dalam dirinya. Dia adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subyek.[6]
Seputar Manusia
Kita menyadari diri kita meskipun sebagai satu kesatuan yang utuh, namun diri kita jelas terdiri dari bagian-bagian dan aspek-aspek yang begitu kaya, terdiri dari badan dan jiwa yang masing-masing kegiatan, kemampuan dan gaya serta perkembanganya sendiri.
Para pendukung fanatik tradisi, yang boleh disebut kaum konservatif, kurang lebiih berpegang pada keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, tidak tetap dan tidak dapat diramalkan secara logis. Sebab kodrat manusia telah rusak berat dan tidak tersembuhkan karena telah dicederai oleh dosa asal, atau sejenis itu. Sedangkan para pendukung revolusioner, yang biasanya disebut kaum liberal berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya baik dan bisa mencapai kesempurnaan.
Mengenai badan manusia dan strukturnya didalam ini berproses secara sederhana biasa dkatakan bahwa kutub fisi berfungsi secara husus pada wal proses. Kutub fisiklah yang menangkap atau menerima bahan atau penelolaan yang telah disajikan oleh dunia, sedangkan kutub mental berkegiatan untuk mengelola bahan tersebut sampai pada tahap kepenuhan diri.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa badan harus dimengerti secara luas, yaitu sebagai hasil dari seluruh proses yang bersifat obyektif, tidak berubah dan menjadi bahan bagi kutub fisik dari pengada-pengada baru. Didalam pengertian yang digunakan disi, badan bukan hanya terbatas pada tubuh, tetapi segala bentuk ekspresi yang bisa diamati pada manusia yang telah selesai berproses setiap saatnya, misalnya saja termasuk didalamnya, bagaimana seorang tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, tidur dan seterusnya untuk saat ini kita memusatkan perhatian kita pada tubuh manusia.[7]
Kegiatan dari macam-macam kegiatan mental disebut jiwa manusia sedangkan kegiatan mental dari unsure tertinggi membentuk budi atau rasio manusia.[8]
Pada dasarnya atau pada hakikatnya hidup manusia adalah pengalaman bersama, hidup manusia, bahkan didalam unsure-unsurnya yag paling individual, merupakan kehidupan bersama dan tingkah laku manusia, didalam strukturnya yang asasi, yang selalu menunjukkan kepada pribadi.
Dengan singkat boleh dikatakan bahwa manusia adalah anak masyarakat. Contohnya : bila masyarakat menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan memandang rendah sikap menonjolkan diri, sifat ini akan mempengaruhi, anak-anaknya untuk bertindak berfikir dengan cara yang sama.[9]









HAKIKAT MENURUT PARA AHLI

Ranah dalam Filsafat dalam mempertanyakan banyak hal yang mengarah ke hal paling dasar mengenai kepahaman manusia mengenai hakikat manusia sendiri. Oleh karena itu filsafat dibutuhkan oleh orang yang memberikan petunjuk dan konseling. Dalam tulisan ini akan saya paparkan mengenai pandangan tiap ahli filsafat mengenai hakikat manusia. Dan bisa jadi nanti anda jadikan quote.
Hakikat Manusia Menurut Socrates
Pemikir hebat di Yunani yang memberikan sumbangsihnya dengan membantu terbentuknya fondasi filsafat di Barat. Metode yang ia gunakan dan konsep yang ia paparkan telah membantu terbentuknya dunia fisafat barat. Penolakannya terhadap kompromi mengenai integritas intelektualnya membuatnya menghadapi hukuman mati. Pandangan Socrates mengenai hakikat manusia :

Manusia adalah seorang yang rasional. Manusia mungkin bervariasi dalam kemampuan rasionalitasnya, mungkin mereka dapat kekurangan secara mental, atau mungkin mereka malah menolak kerasionalitasan. Tetapi bagaimanapun juga definisi hakikat manusia secara universal tetaplah memegang kebenaran.
Manusia dapat membedakan kebajikan, pengetahuan dari ketidaktahuan.
Manusia dapat mengetahui kebaikan, dari mengetahuinya dia dapat mengikutinya. Untuk kepada orang yang tidak mengenal kebaikan dia akan memilih mengikuti keburukan.

Hakikat Manusia Menurut Plato
 Seorang filsuf dan matematikawan, murid dari Socrates. Pandangan dan metodenya juga telah membantuk terbentuknya fondasi dunia filsafat barat. Ranah pemikirannya sampai kepada, etic, logika, filsafat, agama, retorik dan matematika. Hakikat manusia menurut plato adalah :

Setiap manusia lahir dengan memilki kebutuhan biologis masing-masing.
Tugas paling mendasar dari jiwa manusia adalah untuk mengejar pengetahuan.
Kebutuhan dari jiwa yang menginginkan pemurnian dari badannya, dan jiwa tersebut tidak akan dapat murni sampai dia mati.
Bagian paling rasional dari jiwanya adalah bagian yang dapat mendapatkan kebenaran. Ini adalah tugas dari yang tercerahkan.
Jiwa memiliki tiga bagian, yang mempertanyakan, semangat, dan hasrat.
Jika manusia tidak berkecimpung di dalam sebuah kelompok, dia tidak akan bertahan.
Interaksi sosiallah yang membuat kita benar-benar manusia.




 - Bahasa merupakan salah satu kajian yang menarik dalam menggungkapkan siapa sebenarnya manusia karena bahasa diujarkan dalam berbicara yang termasuk gejala yang terang dan sering dibahas dalam pemikiran kontempoler.

modul ini sepenuhnya disadur dari modul Filsafat Manusia karya Juneman
Memahami Hakikat Manusia Dilihat Dari Segi Bahasa_

I. Mengapa Mulai (Pembahasan Filsafat Manusia) dengan Perbuatan Berbicara?

Ada tiga macam keuntungan kalau kita memulai filsafat tentang manusia dengan suatu studi tentang perbuatan berbahasa atau juga berbicara.

Pertama, berbicara adalah suatu gejala yang terang. Nampaknya, sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. Para sastrawan menemukan jati dirinya lewat bahasa. Para hakim, jaksa, pengacara, dosen, wartawan, penulis, penyiar radio-televisi, perancang iklan, dsb, memperoleh nafkahnya dari kemahiran berbahasa. Bahasa meluber di tempat kita bekerja, di kantor, di bengkel, di toko, atau di mal-mal. Berdebat di ruang pengadilan, belajar di bangku kuliah, mengisi teka-teki silang di kamar penjara, membeli tahu-tempe di pasar, semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa. 

Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih daripada apa yang disampaikan. Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas; bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas. Efek wilayah tak-sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misal, keseleo lidah, kelupaan akan nama, dan sebagainya). Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan tetapi menurut keteraturan struktural tertentu. 

Dengan cara ini, psikoanalis Perancis, Jacques Lacan, menghubungkan yang tak-sadar dengan bahasa. Dalam perspektif semiotika, bahasa adalah rantai penandaan. Apabila di dalam praktik bahasa, rantai penandaan terputus, maka terjadi gangguan dalam proses reproduksi bahasa, sehingga menghasilkan apa yang disebut Jacques Lacan sebaga “bahasa skizofrenia”—salah satu bahasa dominan posmodernisme. 

Suatu kenyataan yang tidak bisa luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya, selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. “Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya, dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti, terdapat tahapan evolusi yang luas.” (Langer). Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan, berhubung dengan bahasa bersifat simbolis; artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apapun, walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya olah kata itu tidak hadir. Hal ini mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan. 

Kedua, tema bahasa atau pun wicara merupakan salah satu tema yang terpilih dan disukai oleh pemikiran kontemporer. Bahkan, sejak dahulu, para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). Istilah Yunani logos menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat, inti sesuatu hal, cerita, kata ataupun susunan. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. Maka itu, para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai logos di dalam manusia sendiri (kata, akal budi) dan logos di dalam dunia (arti, susunan alam raya). Logos berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain, karenanya menyesuaikan diri, mendengarkan; kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah “logos” itu (van Peursen). 

Bahasa, menurut Gadamer, bukanlah suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. Di dalam dan pada bahasa terletak kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa. Di dalam bahasa, aspek-aspek dunia terungkap. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa. “Melalui ‘kata dan logat yang tepat‘, seseorang dapat menggerakkan dunia,” kata Joseph Conrad (Brussell, 1988). Inilah kekuatan bahasa, kekuatan kata-kata, the power of words; inilah yang membedakan manusia dengan binatang.

Bagaimana bahasa perlahan-lahan berkembang sebagai tema sentral filsafat Barat, dapat dilihat dan ditelusuri dengan cara berikut (Sugiharto, 1996): 

1.                  Pada periode Frege, Husserl, Wittgenstein awal, dan Carnap, bahasa dipahami secara—meminjam peristilahan Derrida—logosentris. Dimensi-dimensi dasar bahasa dianggap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya, misalnya dalam bentuk penilaian, pernyataan, dan representasi. 
2.                  Kemunculan filsafat bahasa sehari-hari tahun 1950-an, dalam kategori “speech-act” maupun dalam teori-teori yang bersifat pragmatik (Austin, Grice, Searle), bahasa dilihat dalam sifat kontekstual dan pragmatisnya. Bagi Wittgenstein-tua, misalnya, bahasa hanya dapat dimengerti dalam kerangka “bentuk-bentuk kehidupan” yang merupakan konteks bagi pemakaian bahasa itu. Di dalam Speech Acts, J.R. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa, yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act), tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act), dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (prelocutionary act). Secara berturut-turut, ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something, the act of doing something, dan the act of affecting something. Ketiga, sebagian terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat sendiri, yaitu di wilayah susastera dan kritik teks umumnya, sebagian lagi merupakan perkembangan lanjut dari dunia filsafat sendiri; bahasa akhirnya dilihat nilai intrinsiknya, dikaji ulang hakikat dan fungsinya. Tahap ketiga ini melibatkan semiotika, strukturalisme, hermeneutika, dan post-strukturalisme. 
3.                  Perbuatan berbahasa menggambarkan keseluruhan manusia atau manusia secara menyeluruh. Louis Hjelmslev mengatakan bahwa suatu bahasa selalu mempunyai dua segi, yaitu segi ekspresi dan segi isi. Apabila segi ekspresi adalah segi seleksi kata-kata, maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberikan arti khusus, yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata=lata sehingga didengar lebih indah dan halus. Hal ini sering dilakukan oleh puisi. Selain itu, Hjelmslev juga mengatakan bahwa bahasa mempunyai bentuk dan substansi. Substansi adalah kata atau ungkapannya, sedangkan bentuk adalah apa yang diberi oleh pembicara kepada kata yang dipakainya. Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara, maka suatu kata memperoleh arti dan makna. Tergambar jelas dari uraian ini, dalam perbuatan berbicara, seluruh pribadi manusia itu, tersangkut badan dan jiwa, pancaindera, dan roh, yaitu manusia secara konkret, dalam sikapnya yang paling biasa dan dalam hubungannya dengan orang lain.

II. Apa yang Dimaksudkan dengan Berbicara dan Mengisyaratkan?

Manusia adalah homo semioticus, menurut van Zoest (1993). Kata semiotika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, semeion yang berarti “tanda” atau seme yang berarti “penafsir tanda”. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain; contohnya, asap menandai adanya api. 

Apabila diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra, misalnya, kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik). Sebuah teks dan semua hal yang mungkin menjadi “tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda, yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi. Perhatikan rumusan berikut: S (s, i, e, r, c). S adalah untuk semiotic relation; i untuk interpreter, e untuk effect; r untuk reference; dan c untuk context atau conditions.

Meski dalam semiotika manusia disebut sebagai homo semioticus, namun—sejak Ernst Cassirer dan Susanne Langer—dalam kepustakaan filsafat, manusia kerap pula disebut sebagai animal simbolicum. Maka itu, jika disandingkan, kedua pengertian atau sebutan ini tentu saja memerlukan penjelasan tentang persamaan dan perbedaannya. Jelas bahwa perbedaan ―animal” dan “homo” sudah memunculkan problematika, terutama mereka yang tidak akrab dengan pemikiran ilmu-ilmu alam, apalagi teori evolusi menganggap sebutan ―animal” untuk manusia itu dianggap penghinaan. 

Pemikiran Ernst Cassirer memang dilatarbelakangi oleh pemikiran biologi dan psikologi hewan, sehingga bagi Cassirer, fungsi dan kebutuhan simbolisasi manusia dijabarkan sebagai ciri khas manusia dan sekaligus ciri keagungannya. Gagasan Cassirer didasari oleh prinsip-prinsip biosemiotik von Uexkull yang diterapkan pada manusia, sehingga dengan memperoleh sistem simbolis, ia memperoleh sebutan baru, animal simbolicum.

Walaupun kita menggunakan raut-muka dan gerak-gerik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang bersahaja, wahana utama kita untuk bertukar informasi adalah bahasa. Keselamatan kita, sebagai “hewan sosial”, tergantung pada kemampuan kita berbicara dan mengerti; dan keampuhan kebudayaan modern berasal dari terciptanya tulisan barang lima ribu tahun yang lalu. Semua peradaban besar di dunia ini sekarang dibangun di atas dasar manfaat tulisan dan bacaan. Perpustakaan, dengan segala rekaman bahasa yang berada di dalamnya, merupakan khazanah pengetahuan insani. 

Perkembangan evolusioner bahasa pastilah terpacu oleh keunggulan yang berasal dari membaiknya lalulintas informasi, namun peranan bahasa lebih daripada wahana komunikasi. Bahasa terkait erat dengan proses nalar, tetapi apakah hubungan antara bahasa dan nalar? Biasanya kita memakai bahasa untuk bernalar, tetapi apakah keduanya benar-benar saling terkait? Dapatkah kita bernalar tanpa bahasa? Bagaimana kita dapat mengukuhkan atau menyanggah hal ini? Para sarjana telah bergulat dengan pertanyaan ini sejak lama. Claude Lévi-Strauss pesimis bisa memberi jawaban, “Bahasa adalah salah satu bentuk nalar manusia, dan punya nalar sendiri yang manusia tidak mengetahuinya.” Bila kita membandingkan bahasa dan nalar, kita melihat keduanya punya banyak persamaan. Masing-masing merupakan produk biologis, agaknya berkembang untuk memperbaiki organisasi dan kerjasama sosial. Masing-masing dapat membantu kita mencapai tujuan, namun tidak dapat menentukan apa tujuan kita itu. 

Agar bisa bernalar, kita harus berpikir. Sebelum beranjak ke soal apakah bernalar dapat terjadi tanpa bahasa, kita harus lebih dulu bertanya secara lebih umum: Bisakah kita berpikir tanpa bahasa? Gilbert Ryle beranggapan bahwa “sebagian besar kegiatan berpikir kita sehari-hari berlangsung sebagai monolog batin atau percakapan sendiri dalam hati (silent soliloquy), biasanya disertai dengan gambar hidup yang berputar dalam batin.” Samuel Johnson mengatakan, “Bahasa adalah busana pikiran.” Dengan istilah teknis dan filosofis, Colin McGinn mengajukan pertanyaan inti, “Apakah bahasa sekadar pantulan pikiran bersifat sesaat (contingent manifestation of thought), yang diperlukan hanya untuk menyampaikan pikiran kepada orang lain, atau mestinya kita berkata bahwa bahasa merupakan darah-daging pikiran (the stuff of thought), wahananya yang mutlak perlu?” Colin McGinn mengakui kesulitan menjawabnya, dan mengambil sikap sementara ini belum ada jawaban yang memuaskan. 

J.J. Jenkins memberikan tiga hipotesis: (1) pikiran tergantung pada bahasa; (2) pikiran adalah bahasa; dan (3) bahasa tergantung pada pikiran. Jenkins memberikan bukti yang mendukung setiap hipotesis tersebut, mengakui bahwa bukti-bukti itu banyak benarnya, dan menyimpulkan bahwa jawaban yang betul adalah “semua yang telah disebutkan itu.” Filsuf lain mengambil sikap yang lebih pasti. Kant berpendapat bahwa berpikir adalah “bicara pada diri sendiri”. Max Müler lebih jauh lagi; ia menulis buku berjudul The Science of Thought: No Reason without Language; No Language without Reason. Isinya antara lain berjudul ―Language and Thought Inseparable” (Bahasa dan Pikiran Tak-terpisahkan), di mana Müler menegaskan, ―Apa yang sudah terbiasa kita sebut pikiran tidak lain daripada satu sisi mata uang logam yang sisi lainnya adalah bunyi yang bertekanan (articulate sound), sementara mata uang logam itu tunggal tak terbelah, jadi bukan pikiran bukan juga bunyi, tetapi kata (word). 

Hannah Arendt juga sama pasti dan tanpa tedeng aling-aling, ―Tiada pikiran tanpa wicara (speech).” Ludwig Wittgenstein mengatakan hal yang sama, “Batas-batas bahasa saya adalah batas-batas dunia saya.” Filsuf besar lainnya berpendapat sebaliknya, yakni bahwa bahasa dapat dipisahkan dari pikiran. John Locke menganggap kata-kata terkadang sanggup mengungkapkan pikiran, tetapi terkadang tidak. Jean Piaget menunjukkan bahwa proses mental pada anak-anak terjadi sebelum mereka kenal bahasa; lantas ia menyimpulkan bahwa pikiran dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda. 

Frank Benson mengembangkan argumen yang serupa, lalu sampai pada kesimpulan bahwa bahasa dan pikiran merupakan dua fungsi otak yang terpisah. Filsuf senantiasa mengakui pentingnya bahasa. Beberapa tahun belakangan ini mazhab analisis bahasa dalam filsafat telah menegaskan bahwa banyak soal filosofis timbul akibat bahasa yang kacau dan salah-pakai, sehingga perumusan kembali bahasa dengan teliti dan cermat mestinya dapat mengatasi soal-soal itu. Di mana-mana kita dapat saksikan the linguistic turn, dalam hal mana refleksi filosofis berbalik kepada bahasa. Malahan tidak sedikit aliran mengambil bahasa sebagai pokok pembicaraan yang hampir eksklusif, seperti misalnya, hermeneutika, strukturalisme, semiotika, dan filsafat analitis. 

Sikap ini tidak terlalu memuaskan bagi seorang biolog yang berusaha memahami bahasa sebagai hasil evolusi. Pendekatan yang lebih berguna adalah menganggap “arti” sebagai mata-rantai yang menghubungkan kalimat dan pikiran; kalimat “berarti” pikiran yang ditimbulkannya. Pikiran akan menimbulkan kalimat, dan kalimat kembali akan memantulkan pikiran. Pendapat bahwa “arti” adalah mata-rantai yang menghubungkan kata dan pikiran memberikan suatu definisi kerja yang berguna, sekalipun sangat menyederhanakan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMIKIRAN ARTHUR SCHOPENHAUER

HAKIKAT MANUSIA MENURUT PLATO